Minggu, 04 September 2011

Imam Al-Ghazali : Kesenangan Duniawi Mendorong Nafsu Jadi Binal

Makan banyak, kenyang, muncullah nafsu yang berlebihan. [Foto: Istimewa]Makan banyak, kenyang, muncullah nafsu yang berlebihan. [Foto: Istimewa]Engkau tidak akan mampu mengendalikan hawa nafsu sendiri jika dirimu sepenuhnya kau sibukkan dalam urusan mengejar kesenangan duniawi belaka. Ketahuilah bahwa orang-orang yang mampu mengekang hawa nafsunya ialah kebanyakan dari mereka yang menjauhi kesenangan duniawi. Dibuatnya hati dan jiwa menjadi ingin terhadap kesenangan dunia, dan diramaikan kalbunya dalam urusan kepentingan akhirat.

Hati-hatilah! Nafsu bisa mengekang akal kita dan bisa juga akal kita yang mengekang nafsu itu sendiri. Nafsu bisa binal bagaikan kuda liar dan bisa jinak bagaikan unta kelaparan.
Apabila engkau tak mampu mempergunakan akal pikiranmu, tentu nafsulah yang akan menguasainya. Setan lalu mengombang-ambingkan bagaikan anak-anak yang menendang bola ke sana kemari. Lepas kontrol karena mengejar kesenangan dunia merupakan suatu pertanda bahwa dirimu telah dikuasai hawa nafsumu.
"Kesenangan duniawi itu racun yang membunuh, yang mengalir dalam urat. Ke luar dari hati, ketakutan, kegundahan, ingat kepada mati, dan hura-hura di hari kiamat. Inilah yang dinamakan hati mati."
Foto ilustrasi : IstimewaFoto ilustrasi : IstimewaMaka janganlah menenggelamkan diri dan sibuk hanya sekedar demi urusan kesenangan dunia. Bagi ahli ibadah dan sufi, kesenangan dunia dianggap sebagai sesuatu yang sepele serta mencelakakan. Kesenangan dunia hanyalah sementara, dan yang kekal adalah surga. Sebab surga merupakan kesenangan akhirat yang kekal. Dalam Al-Quran diterangkan bahwa kesenangan kehidupan dunia ini hanyalah sementara jika dibandingkan dengan kesenangan di akhirat.
Setiap hari kesenangan kau rasakan kesenangan itu, lalu muncullah kesedihan. Jika kesenangan sirna, gelak tawa akan lenyap dan berubah jadi sedih menangis. Ini adalah sifat kesenangan di dunia yang diburu orang. Sejalan dengan sifat dunia itu sendiri, yang tak kekal dan suatu saat pastilah rusak.
Orang-orang yang mengejar dan mengharapkannya karena didorong oleh hawa nafsunya dan akalnya tertipu sehingga tak bisa berpikir dengan benar. Orang yang demikian sesungguhnya yang menderita kerugian besar. Sadarilah dunia ini sebagai sesuatu yang mencelakakan bagi orang yang tertipu karena Allah mengizinkan setan untuk menggoda dan bebas berkeliaran di dunia. Dunia diberi madu oleh setan agar manusia berlomba-lomba mendapatkannya. Jika telah berhasil mendapatkannya, setan lalu menjerumuskannya. Maka beruntunglah bagi orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya.
Ini ciri kesenangan duniawi [Foto: Istimewa]Ini ciri kesenangan duniawi [Foto: Istimewa]Iman itu sangat penting agar kita mempunyai pendirian yang kokoh. Dengan iman di dada, nafsu akan terkendali dan kita tidak akan diombang-ambingkan oleh suatu keadaan. Lalu, ia menceburkan diri dalam kancah kesibukan dunia. Mengejar kesenangan berupa harta, jabatan atau kepuasan seks yang didapatkan dari wanita. Karena harta ia menjadi tamak, karena jabatan ia menjadi sombong dan dzalim, lalu karena wanita nafsu kebinatangannya menjadi buas, sebuas srigala. Akibatnya, mereka benar-benar tertipu. Setan menciptakan senjatanya lewat hawa nafsu sehingga manusia jadi sesat.
Orang-orang yang berhati kuat, mencoba untuk mendatangi duniawi pada waktu senang. Ternyata yang didapatkan hanyalah batin yang kusut dan liar, jauh dari mendapatkan bekas dalam mengingat Allah dan hari akhir. Di saat ia bersedih, ia mendatangi dunia, maka hatinya menjadi lembut, halus dan bersih dalam menerima atau melaksanakan dzikir kepada Allah.
Akhirnya mereka ini menyadari bahwa kebebasan membuat hati jadi bersedih terus menerus, jauh dari kedamaian dan hanya tenggelam dalam kesenangan yang sifatnya sementara. Lalu mereka memutuskan hatinya dalam segala nafsu syahwat, baik yang halal maupun yang haram. Ini sering dilakukan oleh para ulama sufi.
Dunia hanya sementara  [Foto Ilustrasi; Istimewa]Dunia hanya sementara [Foto Ilustrasi; Istimewa]Dunia memang indah, menawan dan mempesona. Di dalamnya tersimpan kesenangan-kesenangan, kepuasan-kepuasan (yang hanya sementara saja). Tampaknya memang begitu, tetapi bila manusia terlena, kebaikan dunia berubah menjadi sesuatu yang meracuni. Oleh sebab itulah orang-orang beriman dan mau berpikir selalu membuat batas pemisah antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat. Ia selalu menjaga jarak dengan duniawi agar jangan sampai tenggelam pada kesenangan yang membius dan melupakan.
Mereka menyadari kalau keindahan dan kesenangan dunia hanyalah jebakan-jebakan saja. Karenanya mereka tidak mengikat diri dan hati sepenuhnya terhadap kesenangan dunia. Dengan cara inilah yang kiranya dapat menyelamatkan kita dari jebakan setan dan dorongan nafsu. Dengan cara ini pulalah yang akan tetap membuat iman kita teguh dan selalu ingat kepada Allah maupun hari akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar